Dingin Tapi Tetap Hemat


AC adalah salah satu alat elektronik yang bisa dibiang paling rakus makan listrik. Hampir 50% konsumsi listrik di rumah adalah untuk AC. Karena itu, untuk menghemat biaya pemakaian listrik, yang paling utama harus diperhitungkan adalah AC.

Ada beberapa cara penghematan listrik untuk AC.
-Tidak meletakkan unit indoor AC langsung berhadapan dengan panas matahari. Ini akan menyebabkan kerja kompresor AC semakin berat, yang akan mengakibatkan pemakaian energi listrik semakin besar.
-Jangan meletakkan unit indoor terlalu jauh dari unit outdoor. Bila terlalu jauh, Anda akan membutuhkan pipa yang panjang. Ini juga akan membuat kompresor harus bekerja keras untuk membuat udara dingin dapat masuk ke ruangan. Ujung-ujungnya, pemborosan listrik.
-Kurangi waktu pemakaian AC. Ini jelas-jelas akan sangat mengurangi konsumsi listrik, tapi Anda harus berkorban untuk tidak menggunakan AC di saat-saat tertentu.


Ketiga cara di atas memang bisa mengurangi konsumsi listrik untuk AC. Tapi itu semua hanya memegang peranan yang sangat kecil, tidak terlalu signifikan dengan biaya yang dikeluarkan. Menurut Togar Lumbantoruan (Home Appliances I Manager PT Panasonic Gobel Indonesia), yang paling harus diperhatikan adalah alatnya, dalam hal ini yaitu unit AC sendiri. Kita harus pandai-pandai memilih AC yang hemat energi. Nah, bagaimana cara memilih AC yang hemat energi? “AC yang hemat energi adalah AC yang memiliki EER (Energy Efficiency Ratio) yang tinggi,” Togar menegaskan. Untuk menghitung EER tersebut, ada rumus sederhana yang bisa Anda pakai.

EER = Kapasitas pendingin (cooling capacity)
Energi pemakaian (energy consumption)

Cooling capacity dan energy consumption dapat Anda lihat di “badan” AC yang akan Anda beli. Biasanya keterangan ini ada pada body sticker yang terletak di samping unit AC. Bila EER menunjukkan angka di atas 12 BTU/JW, maka AC yang akan Anda beli bisa dikatan hemat energi. Lebih baik lagi bila hasilnya di atas angka 12.

Sebetulnya untuk membantu para konsumen, di luar negeri seperti di Singapura, Thailand, Philipina, dan Hong Kong, sudah dipakai energi label, yaitu semacam sertifikasi dari pemerintah yang dipasang di setiap unit AC sehingga konsumen tidak perlu repot-repot menghitung dan memilih AC mana yang hemat energi. Untuk mengenali AC yang hemat energi, cukup melihat jumlah bintang yang terdapat di energi label tersebut, semakin banyak bintang, maka AC tersebut semakin hemat energi. Alangkah baiknya bila pemerintah Indonesia pun mau menerapkan hal seperti ini, agar para konsumen yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang cara memilih AC, tidak kesulitan menentukan AC mana yang akan dibelinya.

Albert Fleming (Product Marketing RAC, Marketing Departemen PT LG Electronics Indonesia) menuturkan bahwa selain memilih AC yang hemat energi, yang harus dilakukan lagi adalah menghitung kebutuhan AC untuk tiap ruangan agar tidak boros. Anda bisa menggunakan rumus sederhana berikut ini.
-Untuk ruang tidur: panjang x lebar x 500
-Untuk ruang keluarga (ruang yang banyak jendelanya): panjang x lebar x 600
Kebutuhan AC yang diperoleh adalah dalam satuan BTU (British thermal unit), atau dalam hal ini disebut sebagai cooling capacity yang bisa dilihat di body sticker unit AC.

Ada satu hal lagi yang dapat mempengaruhi besarnya konsumsi listrik untuk AC. Meski sudah menggunakan AC yang hemat energi, bisa saja konsumsi listrik untuk AC tetap besar. Mengapa demikian? Kemungkinan karena AC kotor. AC yang kotor bisa membuat kinerja kompresor menjadi berat, yang mengakibatkan pemakaian energi listrik untuk menggerakkannya menjadi besar. Karena itu, jangan lupa untuk rajin-rajin membersihkan filter AC Anda, minimal 3 bulan sekali. Akan tetapi karena kecanggihan teknologi yang sudah berkembang saat ini, ada pula AC yang dapat membersihkan diri secara otomatis. Pilihan AC ini bisa digunakan untuk Anda yang sibuk bekerja dan tidak sempat membersihkan AC.

sumber: http://www.kompas.com


Pages